Focused Group Discussion (FGD) Peningkatan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Kabupaten Karanganyar Tahun 2022

BAPERLITBANG KARANGANYAR – BAPERLITBANG menggelar Focused Group Discussion (FGD) untuk meningkatkan daya saing daerah dan inovasi di Kabupaten Karanganyar. Acara digelar di Hotel Tamansari, Karanganyar (23/3/22), dipimpin oleh Bupati Karanganyar, Juliyatmono, dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), BUMD, dan tokoh masyarakat.

Maksud dan tujuan dari FGD tersebut adalah meningkatkan koordinasi antara Baperlitbang dengan seluruh stakeholder terkait dalam kegiatan kelitbangan, merumuskan strategi pengumpulan data-data pendukung terkait penyusunan Indeks Inovasi Daerah (IID) dan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) dan Indeks Pengelolaan Keuangan Daerah (IPKD), agar dapat mendongkrak peringkat di tahun 2022, serta meningkatkan partisipasi stakeholder terkait dalam kegiatan kelitbangan.

Diketahui bahwa Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Kabupaten Karanganyar Tahun 2021 menempati peringkat 21 dari 35 kab/kota di Jateng, dengan skor 3,28677 (Kategori Tinggi). Sedangkan Indeks Inovasi Daerah (IID) / Innovative Government Award (IGA) Kabupaten karanganyar Tahun 2021 menempati peringkat 99 dari 415 Kabupaten se-Indonesia dengan skor 49,59 (Kategori Inovatif). Kemudian untuk Indeks Pengelolaan Keuangan Daerah (IPKD) Kabupaten Karanganyar Tahun 2021 menempati peringkat 21 dari 35 Kab/Kota di Jateng dengan skor 68,8819 (Kategori Sedang).

Meski secara umum sudah baik bukan berarti peluang untuk bisa berkembang menjadi sempit. Perwakilan Kadin Karanganyar, Eko Kristanto, menilai penyediaan ruang kreatif sangat penting dalam meningkatkan daya saing daerah. Pemkab Karanganyar selama ini masih minim dalam penyediaan ruang kreatif tersebut.

Kabupaten Karanganyar memiliki potensi besar di segala bidang. Namun masih minim tergali. Begitu pula dengan fasilitas pemasaran yang masih terkesan didominasi pelaku usaha mapan. Sedangkan kalangan startup atau rintisan usaha kesulitan mengaksesnya. Dengan penyediaan ruang kreatif, berbagai kendala yang ditemui usaha rintisan diharapkan bersolusi.

“Minimal setiap kecamatan disediakan ruang pojok kreatif. Ruang ini bisa dimanfaatkan untuk memajang produk atau pameran hasil kreatif,” kata dia dalam forum tersebut.

Dia juga menambahkan, membuka tourism centre di lokasi strategis perlu dilakukan. Apalagi Kabupaten Karanganyar memiliki tempat-tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Sehingga keberadaan tourism centre bisa menjadi pemberi informasi bagi para pengunjung.

“Namun ini masih minim tergali, begitu pula dengan fasilitas pemasaran yang masih terkesan didominasi pelaku usaha mapan,” kata Eko.

“Sedangkan kalangan para startup atau rintisan usaha kesulitan mengaksesnya, dengan disediakan ruang kreatif, menjadi solusi berbagai kendala yang ditemui usaha rintisan,”  imbuhnya. Kepala Badan Perencanan Penelitian dan Pembangunan (Baperlitbang) Karanganyar, Dwi Cahyono, mengakui masih adanya sejumlah kendala meningkatkan daya saing daerah. Berbagai masukan stakeholder untuk pengembangan daya saing daerah ini akan menjadi bahan bagi Pemerintah Kabupaten Karanganyar sebagai bahan evaluasi diri.

“Banyak PR yang masih harus kami kerjakan untuk meningkatkan daya saing daerah. Segala masukan termasuk minimnya penyediaan ruang kreatif ini kita akan evaluasi,” katanya.

Ada hal-hal yang menjadi kekuatan maupun kelemahan dalam meningkatkan IDSD, tertampil dalam tabel di bawah ini :

Dimensi Penguat IDSD
Dimensi Pelemah IDSD

Beberapa hal lain yang dapat dilakukan untuk mendongkrak IDSD Karanganyar disampaikan oleh Aris Purnomohadi dari Bank Indonesia (BI). Menurut Aris, rendahnya kemampuan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengakses perbankan dapat dijembatani dengan aplikasi Si APIK (Aplikasi Pengelolaan Keuangan) dari BI yang dapat membantu kinerja operasional keuangan UMKM itu sendiri. Diketahui Forum for Economic Development and Employment Promotion (FEDEP) Solo mencanangkan program Pariwisata Bersama di Solo Raya. Paket wisata Bersama di Solo Raya dapat menarik cukup banyak wisatawan.

Disampaikan juga oleh Murdiyono dari Bank Jateng, bahwa Bank Jateng menyatakan siap mendukung peningkatan Daya Saing Karanganyar, terkait peningkatan akses keuangan dan permodalan. Bank Jateng memiliki program-program yang mendukung peningkatan permodalan UMKM di Karanganyar. Beberapa produknya antara lain kredit StartUp Millenial, maksimal 25 juta rupiah, jangka waktu 1 s.d. 3 tahun dengan bunga 7% per tahun. Ada skema cashback juga sehingga bunga bisa turun di bawah 7%. Selain itu ada pelatihan-pelatihan bagi UMKM, baik untuk pemula maupun bagi yang baru mau belajar. Pelatihan dengan bentuk Micro Business Game (kerjasama dgn Jerman), mulai dari pencatatan keuangan agar dapat bankable sehingga akses permodalan menjadi semakin mudah.

Dinas Perdagangan, Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DISDAGNAKERKOPUKM) Kabupaten Karanganyar juga telah turut andil dalam meningkatkan IDSD. Disampaikan oleh Sri Antiningsih, DISDAGNAKERKOPUKM telah menyelenggarakan kegiatan Pendampingan UMKM mulai dari fondasi bisnis, yakni pencatatan keuangan. DISDAGNAKERKOPUKM juga punya aplikasi e-Retribusi dengan bekerjasama dengan Bank Jateng, dikhususkan untuk mempermudah pembayaran retribusi di pasar. Ada juga fasilitasi pelatihan HAKI bagi pelaku UMKM meskipun masih saat ini belum menyentuh semua pelaku UMKM.

Johadi, SE., M.Sc. dari Universitas Sebelas Maret (UNS) memaparkan beberapa program yang dapat dicanangkan untuk meningkatkan daya saing daerah di Kabupaten Karanganyar. Yang pertama yakni Pembangunan Infrastruktur Menyeluruh (Pembangunan Sarpras Perhubungan dan Sarpras Cyber City; Pelebaran dan Peningkatan Jalan Kabupaten). Lalu dengan  Pemberdayaan Perekonomian Rakyat (Kampung OVOP; Pemberdayaan BUMDes). Setelah itu Pengembangan BLK Sesuai Kebutuhan; Pembangunan Sarpras Perdagangan; Pemasaran Produk Unggulan Daerah di Toko Modern. Dilanjutkan dengan Pendidikan Gratis SD/SMP dan Kesehatan Gratis (Pengembangan RSUD). Tidak ketinggalan pula Pembangunan Desa Sebagai Pusat Pertumbuhan (Pengembangan Pelayanan Desa Berbasis Teknologi). Kemudian yang terakhir adalah Peningkatan Kualitas Keagamaan, Sosial Budaya, Pemberdayaan Perempuan, Pemuda dan Olahraga (Pembangunan Inovasi Berbasis Teknologi Aplikasi; Peningkatan dan Pemberdayaan Prestasi Olahraga dan Pembangunan Sarpras Olahraga).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.